<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4468965170767477662</id><updated>2012-02-16T09:03:01.103-08:00</updated><title type='text'>perantauan putra kalang</title><subtitle type='html'>Berdasarkan ekonomilah manusia bersusah payah untuk melakukan perjalanan yang tak pernah ada batas akhirnya. Dari dunia kasap mata sampai dunia tak kasap mata, dari dunia borjuis hingga dunia gelandangan, dari dunia berjubah hingga dunia penuh noda, dari dunia intelektual sampai dunia kebodohan dan dari dunia pejabat sampai dunia rakyat jelata. Supaya manusia bisa menembus dunia-dunia tersebut, mereka harus mampu ber-acting sesuai dengan dunia yang ditemuinya</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://putrakalang.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4468965170767477662/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putrakalang.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>putrakalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4468965170767477662.post-2303738389220964730</id><published>2008-10-16T06:26:00.000-07:00</published><updated>2008-10-16T06:27:19.950-07:00</updated><title type='text'>JUM’AT YANG BERBEDA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;JUM’AT YANG BERBEDA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bedhuk berbunyi membungkam keramaian siang, alunan adzan sang muadzin membius rasa capek dan kesal urat nadi. Anak-anak kecil entah siapa punya, bercanda dan bergerumuh ria teriring tawa kecilnya. Celoteh canda tawanya adalah jamuan pertemuanya. “Lee, meneng enek wong sholat!. Opo ra wedhi dosa?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Dauphin;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; Saring nada pelan orang tua yang merasa terganggu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Enggeh mbah, kulo mriki di ajak bapak.” Jawabnya seraya cekikikan, sembari menyindir. “Dasar cah saiki angel omongane !”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Dauphin;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; Kata menyerah pun keluar dari mulut orang tua itu. Datang para jama’ah memenuhi shaf-shaf sholat. Barisan membelakangi, terisi anak muda asyik berdiskusi, Wajahnya kelihatan serius untuk berpikir dan bergaya intelektual. Yeach, biar sandal dan sepedahnya aman! Kali?. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Tetapi, jum’at ini ada sedikit berbeda, biasanya seorang takmir membacakan laporan keuangan. Tetapi jum’at ini dia membacakan pendapatan yang masuk di kotak amal. Pendapat yang dimaksud adalah berupa selembar surat. Salam sebagai pembuka dari takmir terjawab dengan serentak oleh para jama’ah. Mohon perhatiannya sejenak!Hiruk pikuk dan diskusi ria pun terhenti seketika mendengar ucapan dari takmir. ”Jama’ah jum’at yang di mulyakan Allah.. Ternyata ini surat tertera nama Bung Karno!. Ucapnya, sambil membuka lembar si surat lebih lebar lagi.&lt;i&gt;Bismillah hirohman nirrohkhim, 30 tahoen lebih akoe berbaring di sini. Ingin rasanya kembali dan bergabung dengan temen-temen, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="SV"&gt;bercanda ria untoek meregangken kepedihan hati, dan kepenakken pikiran. Bergerumbul serta berdiskusi mengatur strategi penyerangan untuk besok. Akoe rindoe dengan mereka, masih adakah di jamanmu ini temenku djang tersisa? Bila ada, koe akan lansung menjadi garda depan bagi mereka seperti dulu lagi. Karena tugaskoe belum selesai, masih bandjak pekerjaken djang aku tinggal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="SV"&gt;Nak, tolong cariken sisa temen-temenkoe djang ada di dekat kamu. Akan akoe ajak untuk menegakken kembali negara djang telah aku proklamasiken. Itu lihatlah lantainya telah rusak terinjak oleh bor-bor besi dan zat-zat kimia, temboknya mulai membengkak karena kapur-pasir-batunya terjualkan, tiang-tiangnya meretak karena hukom juga aturannya dijadikan modal untuk mengeruk harta, kayu-tjendela dan daun pintunya telah keropos, pada hal duloe telah akoe beri pewarna biar kelihatan tjantik juga berwibawa. Makanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akoe kasih warna, hijau, tjoklat tua, hitam, putih, klabu dan juga merah. Genthing-genthingnya sudah berjatuhan diterjang angin tornado dari USA. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="SV"&gt;Tersisa berapa orang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sekarang temen-temenkoe, nak! Rumahkoe sedang memanggilkoe untoek kembali menjadi penguasa dan menjalanken apa djang di sabdaken nabikoe ’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="SV"&gt;pemegang kekuasaan (semestinya) adalah payung Allah di muka bumi kepada siapa orang-orang yang teraniaya atau kehilangan hak-haknya dapat berlindung’.&lt;i&gt; Dia akan akoe ajak untoek menyelimuti cucukoe djang tidur kedinginan, menemani cucukoe djang kini dudoek simpuh dalam ketakuten, menyuapi mulut dan membungkam perutnya djang kerontjongan, menghiburnya djang lagi menangis tersedu-sedu serta menasehati mereka djang marah bercampur dendam. Nak, tolong bantoe akoe menemuken dan mengumpulken temen-temenkoe!’wassalam. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="FI"&gt;Demikian pemberitahuan dari kami, karena kita seumat beragama adalah saudara dan patutnya untuk saling membantu,”&lt;i&gt;ucap dari takmir menutup pemberitahuan telah dibacakan&lt;/i&gt;”. Muadzin pun mendendangkan adzannya dan di susul sang kothib mepersiapkan khotbahnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="SV"&gt;Semuanya berjalan yang semestinya hingga sholat jum’at terselesaikan. /PUNK?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4468965170767477662-2303738389220964730?l=putrakalang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putrakalang.blogspot.com/feeds/2303738389220964730/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4468965170767477662&amp;postID=2303738389220964730' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4468965170767477662/posts/default/2303738389220964730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4468965170767477662/posts/default/2303738389220964730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putrakalang.blogspot.com/2008/10/jumat-yang-berbeda.html' title='JUM’AT YANG BERBEDA'/><author><name>putrakalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4468965170767477662.post-99307590301335625</id><published>2008-10-16T06:20:00.001-07:00</published><updated>2008-10-16T06:21:42.459-07:00</updated><title type='text'>LELAKON HIDUP</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;LELAKON HIDUP &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;“&lt;i style=""&gt;Hidup Bagaikan Panggung Sandiwara&lt;/i&gt;”secuplik kata dari lagunya Nike Ardila, perlu kita gali lagi dalam melihat perjalanan hidup manusia. Bila orang jawa melihat kenyataan hidup bagaikan&lt;i style=""&gt; Lelakon Pewayangan&lt;/i&gt;. Namun dari pandangan Syeh Siti Djenar hidup adalah “&lt;i style=""&gt;Sangkan Paraning Dumadhi&lt;/i&gt;”. Tetapi, dari orang-orang yang punya pandangan hidup idealis, “&lt;i style=""&gt;Hidup Adalah Kenyataan Semu, kenyataan yang sejati cuma ada dalam dunia ide &lt;/i&gt;”. Berbagai makna manusia memandang kehidupan, apalagi para politikus segala tepak terjang perpolitikan yang di&lt;i&gt;lakon&lt;/i&gt;inya merupakan jalan untuk mendapat pengakuan keberadaan dirinya di panggung perpolitikan. Tak perduli sarana yang mereka gunakan, baik dari Parpol, LSM, perbisnissan, Organisasi Agama, Lembaga Pendidikan maupun Birokrasi Pemerintahan dan juga tanpa sarana apapun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;Yang menjadi pertanyaan bagi penulis, apakah &lt;i&gt;lelakon&lt;/i&gt; yang manusia perankan dalam panggung kehidupan cuma pada tataran mendapatkan kekayaan serta pengakuaan? Karl Marx menyatakan bahwasanya yang menggerakkan manusia adalah ekonomi. Berdasarkan ekonomilah manusia bersusah payah untuk melakukan perjalanan yang tak pernah ada batas akhirnya. Dari dunia kasap mata sampai dunia tak kasap mata, dari dunia borjuis hingga dunia gelandangan, dari dunia berjubah hingga dunia penuh noda, dari dunia intelektual sampai dunia kebodohan dan dari dunia pejabat sampai dunia rakyat jelata. Supaya manusia bisa menembus dunia-dunia tersebut, mereka harus mampu ber-&lt;i&gt;acting&lt;/i&gt; sesuai dengan dunia yang ditemuinya. Artinya, saat manusia ingin menjadi seorang pejabat dia, perlu mengenal dulu bagaimana dunianya para pejabat dan harus bagaimana tindakan serta karakteristik pejabat saat berhadapan dengan warga masyarakat, kerabat, ulama’,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;partner politik dan bahkan lawan politik. Seperti itu juga pada dunia-dunia lainnya, termasuk juga dunianya para tokoh agama, dunia para cendekiawan atau bahkan dunia intelektual. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di dunia per-&lt;i&gt;acting&lt;/i&gt;-an, seorang artis dituntut untuk mengenal dan memahami teks drama yang dia pegang. Melalui pemahamannya terhadap teks tersebut para artis dapat mengolah dirinya, mulai kostum, sifat-sifatnya, bahasa yang dia gunakan, tampilan serta mimik dan didukung oleh background yang melingkupi keberadaannya. Sutradarawan bilang, manusia biar dapat bertahan dalam panggung kehidupan, perlu membuka diri dari orang lain supaya manusia dapat bertahan hidup di kehidupan penuh dengan dramatisir. Manusia harus pandai-pandai untuk memerankan tokoh dimanapun mereka berada. Karena kenyataan semu yang mereka tampilkan demi menjaga strategi perekonomian yang sedang dia harapkan. Asalkan kebenaran yang ada dalam otak-otak manusia tidak sampai terbongkar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Adakah Sunnah Tullah disini? Kalangan ilmuan memaknai sunnah tullah adalah hukum alam, yang namanya hukum alam adalah segalanya dapat terukur dengan matematis dan pasti. Tetapi dramatisir hidup apa seperti itu? Bukankah, manusia bergerak sesuai dengan isi juga rancangan yang manusia bangun sendiri di otak-otaknya. Perihal itu, berupa pengetahuan-pengetahuan dari teori sampai pada pengalamannya sendiri. Pada hal di sisi lain, pelbagai cara pandang serta idelogi (tujuan yang ideal dalam hidup) yang ada didunia keilmuan penuh dengan kepentingan ilmuan. Maksudnya teori-teori dan pengalaman-pengalaman baik yang dia manusia dapatkan dari refleksi perjalanan hidupnya atau cuma pembenaran atas pengalaman dari orang lain, semuanya tidak lepas dari tujuan yang terpendam dalam diri sumber keilmuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mungkinkah makna dari kata “kejujuran”, selesai dalam tingkat keilmuan? Baik keilmuan akademik atau keilmuan spiritual. Kejujuran keilmuan yang kami maksud yaitu ; kebenaran atas penjelasan dari pemberi ilmu/orang berilmu saat berada dihadapan para pencari pencerahan hidup. Mereka menjelaskan sejelas-jelasnya dan juga memberikan contoh-contoh atas penjelasan yang mereka sendiri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sejauh atas keilmuan yang manusia dapatkan. Tetapi penjelasan-penjelasan yang dia berikan pada orang lain itu, tidak dapat terbuktikan dalam diri para manusia-manusia yang berilmu. Terpenting baginya adalah menjalankan actingnya secara professional, sesuai dengan waktu, tempat dan situasi yang dia temui. Itulah actor perikehidupan dalam menjalankan perannya didunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bukan tanpa alasan Allah menciptakan manusia hidup didunia ini, scenario kehidupan pun sudah tercipatakan dulu sebelum manusia tercipta. “Tantangan bagi setiap manusia adalah penciptaan. Akankah Anda berkreasi dengan penuh perasaan atau dengan ketidakpedulian”,(&lt;i style=""&gt;Gari Zukav&lt;/i&gt;). Ketika Allah akan menciptakan manusia tak ada kekuatan apapun, untuk menghalangi-Nya. Bahkan sewaktu-waktu Allah berkehendak, manusia akan mau apa? Tinggal bagaimana manusia menanggapinya, akankah memberikan ketulusan hatinya atau cuma rasa acuh dan tak acuh yang manusia bisa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Penciptaan manusia dimaksudkan oleh Allah sebagai khalifah di bumi. Karena sebab itulah, sebelum manusia menerima tawaran Allah untuk mengurus alam, Allah pernah menawarkan pada makhluk selain manusia; gunung, langit, bumi menyatakan tidak sanggup untuk mengurus alam (QS. 33:72). Karena Alah telah memberi potensi dengan kualitas yang “sangat baik”, maka manusia sanggup menerima amanat Allah sebagai pemakmur bumi dan alam semesta. Allah mencipatakan alam semesta dengan prinsip-prinsip keseimbangan dan keserasian. Demikian dengan manusia. Ketika hubungan dan pemahaman terhadap sesamanya hanya sekadar kulit, maka yang terjadi adalah penindasan, kesewenang-wenangan dan ketidakadilan. “ Sesunguhnya manusia berlaku sewenang-wenang manakala dirinya merasa mampu” (QS. 96:6-7)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Makna lain khalifah selain pemimpin adalah &lt;i style=""&gt;membimbing&lt;/i&gt; agar setiap makhluk dapat mencapai tujuan penciptaannya. Ini berarti tugas kekhalifahan harus menghargai proses dan jerih payah, tanpa melakukan segala perilaku “jalan pintas” untuk mengganjal tujuan orang lain. Pola demikian itulah yang akan menghancurkan tatanan kehidupan yang berorientasi pada diri sendiri, tanpa memperdulikan nasib orang lain. Karena sifat kekhalifahan mensyaratkan kemaslahatan kehidupan manusia, bukan memperkaya diri dan menyengsarakan masyarakat serta lingkungan. Semoga hiruk-pikuk “&lt;i style=""&gt;Para Khalifah&lt;/i&gt;” yang selalu mengobral ucapan-ucapan untuk dan demi kebenaran juga kesejahteraan hidup akan terciptakan. //Punk//&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;'&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4468965170767477662-99307590301335625?l=putrakalang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putrakalang.blogspot.com/feeds/99307590301335625/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4468965170767477662&amp;postID=99307590301335625' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4468965170767477662/posts/default/99307590301335625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4468965170767477662/posts/default/99307590301335625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putrakalang.blogspot.com/2008/10/lelakon-hidup.html' title='LELAKON HIDUP'/><author><name>putrakalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4468965170767477662.post-4982209735140206879</id><published>2008-09-03T11:28:00.000-07:00</published><updated>2008-09-03T11:29:09.864-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4468965170767477662-4982209735140206879?l=putrakalang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://julziee.blogspot.com/' title=''/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4468965170767477662/posts/default/4982209735140206879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4468965170767477662/posts/default/4982209735140206879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putrakalang.blogspot.com/2008/09/blog-post.html' title=''/><author><name>putrakalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4468965170767477662.post-5082617400551389941</id><published>2008-08-17T19:37:00.000-07:00</published><updated>2008-08-17T19:41:13.872-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Turats Islam Jawa&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Turats atau biasa disebut dengan tradisi, seringkali mewarnai peribadatan umat Islam bangsa kita. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Syiar Islam yang di contohkan oleh pemuka agama dari negeri Jiran tempo dulu, yaitu mereka para Walli Yullah yang terorganiser dalam sebutan &lt;i&gt;wali songo&lt;/i&gt;. Seperti yang kita ketahui bewrsama, metode dakwah dengan pola penggabungan antara ajaran Islam dengan tradisi jawa, ternyata telah menggeser kedudukan agama hindu di hati masyarakat pribumi. Hal-hal yang kental dalam tradisi umat Islam di Jawa dapat kita temui dalam masyarakat hari ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;Slametan&lt;/i&gt;,&lt;i&gt; petunjukkan wayang &lt;/i&gt;dan sampai tembang jawa yang isinya penuh dengan bahasa-bahasa ajaran sufi, oleh masyarakat jawa timur-an lebih dikenal Sunan Kalijogo adalah penyetusnya. Beliau adalah salah satu dari sembilan wali yang ada di tanah jawa. Pemahaman para sunan tentang tradisi masyarakat jawa, pola piker, gaya hidup bahkan sampai gaya perpolitikan tokoh-tokoh jawa, perlu di kaji sebelumnya sebab Jawa sebagai wilayah pertama penyebaran Islam. Dalam strategi perang seperangkat keilmuan baik agama, sosial dan politik juga mistik perlu di kuasai terlebih dulu biar meraih kemenangan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Terutama di kalangan basis bawah yaitu tiada lain masyarakat kecil “&lt;i&gt;wong cilik&lt;/i&gt;”, yang sering kali diposisikan sebagai masyarakat yang terpinggirkan dalam segala segi informasi, keilmuan, kesosialan dan juga perekonomian. Wong cilik itu juga, diperposisikan sebagai obyek keilmuan sehingga mereka tercerahkan. Pencerahan dalam pandangan orang berilmuan lebih, meskipun dibalik itu tanpa disadari oleh &lt;i&gt;wong cilik&lt;/i&gt;, mereka telah menanamkan kerangka pemikiran pola hidup social dan keagaman yang sebelum dikenal. Adanya pelbagai permasalahan yang dihadapi dan masyarakatnya dalam memperkenalkan Islam, mereka melakukan ijtihad untuk menyimpulkan hokum. Keanekaragaman dan kompleksitas permasalahan bukan hal yang mudah untuk dicarikan penyelesaiannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sebagaimana masa sahabat, untuk merumuskan, para ulama dari kalangan tabi’in menjadikan Al-Quran, sunnah, Ijma’, dan akal sebagai sumber hukumnya. Kemampuan berijtihat beliau, membuahkan hasil dikalangan masyarakat jawa. Daya simpatikan serta kemudahan dalam menjalankan perintah agama, Islam sebagai agama yang tak membedakan ras, suku, dan tingkatan social oleh masyakat marginal diterimanya dengan hati terbuka tanpa ada beban untuk meninggalkan agama nenek moyangnya. Walaupun tantangan baik fisik serta psikologis didapatkan dari lingkungannya, saat proses pengalihan keimanan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kedekatannya dengan kalangan bawah kunci utama, disetiap perjalan sejarah para&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pejuang agama “moral” mencapai keberhasilan. Begitu juga, para sunan yang berposisikan selain tokoh pencerahan spiritual juga tumpuhan hidup dikalangan wong cilik yang merindukan kedamaian dan kesejahteraan. Hingga kini pun perjalanan perjuangan wali jawa terhadap Islam telah menjadi cerita hidup dalam masyarakat. Aura keagamaan yang telah diwariskannya, menyulut hati di kesetiap ziarah makam yang dilakukan oleh umat Islam Jawa. Dalam perjalanan selanjutnya metode yang telah diterapkan para penda’i handal dari timur tengah, kemudian telah menjadi tawaran paten yang tak dapat dirubah lagi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Ajaran dan media yang telah diwariskan telah mengendap dalam ruang spiritual orang Jawa, sehingga Islam Jawa memiliki indentitas yang semestinya berbeda dengan Islam di Negara-negara lain. Namun pola spiritual yang berbeda ini, oleh sebagian umat Islam dinilai menyimpang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Penilain yang sepihak menjadikan rangsangan memunculnya gerakan-gerakan pemurnian ajaran Islam di Indonesia. Pembakaran kitab-kitab klasik dan instriksi antar golongan telah menjadi alat penyudutan di intergral masyarakat kalangan bawah. Meskipun demikian, seiring dengan arus modernisasi semangat kencenderungan untuk kembali pada tradisi juga cukup besar. Tak heran apabila, buku-buku ulama klasik dicetak ulang berkali-kali untuk dijadikan rujukan dalam memahami persoalan modernisasi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Turats tidak akan hilang di kehidupan masyarakat kita. Senada dengan pemikiran Hasan Hanafi yang memaknai turats adalah khazanah kejiwaan (&lt;i&gt;al-makhzun al-nafs&lt;/i&gt;) merupakan pedoman dan piranti dalam membentuk masyarakat. Islam telah dibangun dan dibumikan oleh para tokoh pem-&lt;i&gt;Babad&lt;/i&gt; Islam bangsa kita. Begitu juga dengan Islam Arab, Islam India, Islam Malaysia dan akhirnya waktu kumpul dipadang &lt;i&gt;&lt;u&gt;‘Arafah&lt;/u&gt;&lt;/i&gt; saat musim haji semua toh juga Islam. Perbedaan serta penyudutan antar umat Islam semata-mata hilang ditelan oleh pertanggung jawaban individu manusia kepada Tuhannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Menurut Jabir Ushfur dalam konsep “melampui tradisi” yang dimaksud adalah menggunakan tradisi untuk melahirkan tradisi baru yang senafas dengan tututan masa, dan mencari jalan baru untuk membangun masyarakat. Itu tak lain ada 3 langkah:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;Pertama;&lt;/i&gt; adanya kolaborasi antara orisinalitas (al-ashalah) dan modernitas (al-mua’sharah. Kolaborasi yang dia maksud adalah menganilis tradisi dari unsur negative dan mengambil sisi positif dari tradisi untuk menyelesaikan persoalan. &lt;i&gt;Kedua;&lt;/i&gt; pembacaan revolusioner (al-qiraah al-tatswiriyah). Tujuannya adalah mengajukan pemikiran baru. Oleh karena itu seperti hasan hanafi menggali nilai-nilai kemanusian dan memperluas peran akidah yang selama ini identik pada mengesakan Tuhan, namun juga menjadi pedoman untuk mewujudkan keadilan, tranformasi social dan perubahan. Hal yang semata juga dilakukan golongan mu’tazillah yang menguak masalah keadilan dalam pesan-pesan tauhid.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Islam adalah agama yang kaya raya menyimpan tradisi dan karenanya perlu pembacaan yang intensif terhadap tradisi untuk melahirkan pandangan-pandangan keagamaan yang mencerminkan keislaman disatu sisi yang bercorak traditional, tetapi juga hendak menghadirkan pandangan keagamaan yang bernuansa kemajuan, keadilan dan kesejahteraan.//punk//&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4468965170767477662-5082617400551389941?l=putrakalang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4468965170767477662/posts/default/5082617400551389941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4468965170767477662/posts/default/5082617400551389941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putrakalang.blogspot.com/2008/08/turats-islam-jawa-turats-atau-biasa.html' title=''/><author><name>putrakalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
